aku juga pengecut
atau terserah kalian
hanya takut melabuhkan hati
di sebuah manisnya cinta
ku tau,akhirnya getir
mungkin aku naif...
munafik...
atau terserah...
semu...
membalut hati ini
mengalir manja...
Apa sih yang Tuhan mau?
Apa sih yang Tuhan mau untuk kukatakan?
Mengapa lidahku selalu membangkitkan amarah
Kata-kataku penuh dengan kekosongan
Apa sih yang Tuhan mau untuk kulakukan?
Mengapa hari-hariku mengecewakan banyak orang
Diri ini letih dengan kesia-siaan
Tuhan mau aku jadi apa?
"AlatKu"
AlatMu yang bagaimana?
"AlatKu yang menyenangkan hatiKu"
Menyenangkan hati Tuhan bagaimana?
"Menyenangkan hatiKu dengan taat padaKu"
Taat pada Tuhan bagaimana?
"Taat untuk mengasihi"
Mengasihi bagaimana?
Mengasihi Tuhan dengan segenap-segenap yang ada padaku?
"Segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatanmu"
Mengasihi orang lain seperti aku mengasihi diri sendiri?
Tapi...
Aku ke Gereja setiap Minggu, Tuhan...
Aku membaca Alkitab setiap hari...
Aku menaikkan syukurku dengan menyanyi lagu pujian...
Aku banyak bermurah hati pada sahabat-sahabatku...
Bukankah melalui semua itu aku telah mengasihiMu?
"Tidak dengan segenap hati kalau kamu bermurah hati hanya pada orang-orang tertentu yang mereka pun baik padamu"
"Tidak dengan segenap jiwa kalau kamu ke Gereja hanya karena rutinitas, bukan karena kau memang merinduKu"
"Tidak dengan segenap akal budi kalau kamu menyanyi tanpa mengerti apa makna dari lagu yang kamu nyanyikan bagiKu"
"Tidak dengan segenap kekuatanmu kalau kamu membaca Alkitab setiap hari dengan terburu-buru tanpa merenungkan karena kamu letih dan mengantuk"
Kalau gitu...
Apa sih yang Tuhan mau?
Apa yang ada di pikiran Tuhan ketika Ia menciptakanku?
"Nak, Aku sudah menjawabmu tadi..."
asli gw banget
Aku ingin tersenyum kepadamu hari ini,
Walaupun aku tidak dan belum pernah melihat wajahmu.
Membayangkanmu adalah seperti usaha menjaring angin namun semoga kau dapat menangkap senyumku.
Dan aku mau berkata cuaca di kotamu indah
Karena walaupun mendung betah di atap rumahmu
Aku tetap ingin mengajakmu menikmatinya dengan senang
Aku ingin menyentuh jemarimu saat ini
Walaupun kau ribuan mil jauhnya
Karena jarak tak pernah menggagalkan sukacita yang keluar dari hatimu.
Dan sebelum kuakhiri suratku pagi ini,
Anggaplah aku telah memelukmu dengan kata...
Sebuah pelukan dari sahabatku untuk mengawali hari ini dalam kehangatan
Aku tengadah ke langit biru
Sang awan memanggilku
dengan siulannya yang lembut sebagai salam
Aku terkejut
And guess what!?!
Kuterima sekotak permen
"Sebagai hadiah!", katanya
sekotak permen penuh warna-warna ceria
Kucicipi permen pertama
Warnanya hijau muda
Terasa manis dan menyegarkan
Kurasakan permen kedua
Warnanya biru terang
Ah.. hatiku jadi gembira dan tenang
Kuraih coklat ketiga
Oh.. Kelabu
Aku benci warna kelabu
Rasanya pahit di lidah
Manis, pahit,asam
Kuyakin bahwa semua itu adalah rasa kehidupan
Kuintip permen-permen yang tersisa
Swiing.. entahlah...
Tiba-tiba kuteringat sahabatku
Tak sabar rasanya bertemu dengannya
Agar aku bisa berbagi permen-permen yang tersisa
untuk merasakan gurat kehidupan
Bersamanya,
sahabatku...